Press Release: Seruan Jawa Darurat Air

15 - Apr - 2015 - by - Non Litigasi,Siaran Pers - No Comments »
Picture ofPress Release: Seruan Jawa Darurat Air

KOALISI SEMARANG UNTUK KENDENG

Press Release

Seruan Jawa Darurat Air

Salam Lestari!!!
Semarang, 15 April 2015. Aktivis serta pegiat lingkungan baik lembaga maupun individu yang tergabung dalam Koalisi Semarang untuk Kendeng akan melakukan aksi simpatik sadar lingkungan di bundaran air mancur jalan pahlawan semarang pada 15 April 2015 pukul 16.00 WIB sampai selesai. Aksi yang berbentuk panggung bebas tersebut sekaligus merupakan bentuk dukungan kepada warga atas gugatan terhadap SK Gubernur Jawa Tengah No: 660.1/17 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan kegiatan pertambangan PT Semen Indonesia di Rembang yang rencananya akan diputus pada 16 April 2015 oleh Majelis Hakim PTUN semarang.

Keterlibatan secara aktif para pegiat serta aktivis lingkungan di Semarang ini didasari atas keresahan terhadap kebijakan pertambangan di kawasan karst yang berpotensi menghilangkan sumber mata air yang selama ini menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan air minum dan irigasi pertanian masyarakat khususnya di kawasan Karst Cekungan Air Tanah (CAT) watuputih Rembang serta Kawasan Karst Sukolilo yang membentang di sepanjang pegunungan kendeng di Kabupaten Pati, Grobogan,dan Blora.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Semarang Caver Association (SCA) dan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Rembang serta fakta-fakta yang muncul dalam persidangan, penambangan yang dilakukan oleh PT. Semen Indonesia terbukti berada di dalam kawasan CAT Watu Putih yang merupakan kawasan lindung Geologi. Di kawasan tersebut ditemukan 44 ponor, 74 goa yeng tersebar dan 4 diantaranya merupakan goa yang memiliki sungai bawah tanah aktif. Selain itu juga terdapat 128 mata air yang tersebar di wilayah CAT Watuputih sebagai mata air parenial yang mengalir di sepanjang musim kemarau dan penghujan.

CAT Watu Putih memilki fungsi epikarst yang jika itu hilang maka akan mengakibatkan hilangnya fungsi resapan air, dimana mata air yang ada di sekitar kawasan karst CAT Watuputih mampu memenuhi kebutuhan 607.198 jiwa di 14 kecamatan, Kabupaten Rembang. Sementara itu, dalam konteks bencana, hilangnya fungsi resapan menyebabkan hilangnya jeda waktu air tersimpan sehingga pada saat musim hujan, air yang seharusnya terserap ke dalam tanah akan berubah menjadi air permukaan/run off. Pada saat melebihi debit puncak air hujan yang datang akan cepat hilang sebagai aliran air permukaan dan hal ini dapat mengakibatkan banjir di wilayah-wilayah dataran yang berhubungan langsung dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang bermuara pada CAT Watuputih.

Adiyat, salah satu pegiat lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Semarang untuk Kendeng menuturkan “persoalan pertambangan semen di Rembang bukan hanya menjadi persoalan masyarakat Rembang saja, akan tetapi sudah menjadi persoalan masyarakat jawa tengah dan pulau jawa pada umumnya. Hal ini dikarenakan kondisi daya dukung lingkungan yang tidak sesuai jika dipaksakan untuk pertambangan”. Lebih lanjut, “kami sangat berharap Majelis Hakim memiliki perspektif lingkungan dan keberpihkan terhadap kepentingan masyarakat dalam memutus perkara ini”.



Leave a Comment

© Copyright 2017 by Yayasan LBH Indonesia - Lembaga Bantuan Hukum Semarang
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: yunianto2008@gmail.com

Alamat:
Jl. Jomblangsari IV No. 17 Jomblang
Candisari, Semarang
Telp. (024)86453054, 86453050 Fax. (024)86453054