Solidaritas Aksi “Sampun Maos Amdal”

31 - Okt - 2014 - by - Advokasi,Non Litigasi - No Comments »
Picture ofSolidaritas Aksi “Sampun Maos Amdal”

“Sampun Maos Amdal ?”

 
 
“Pengetahuan adalah kekuasaan”-Francis Bacon-
 
Semarang, 31 Oktober 2014. Lebih dari 4 bulan sudah ibu-ibu Rembang berada di tenda perjuangan untuk melakukan aksi penolakan pendirian pabrik semen di Kabupaten Rembang. Aksi tidak pulang kerumah tersebut dimulai pada 16 Juni 2014 saat warga melakukan aksi penolakan pada acara peletakan batu pertama pendirian pabrik semen di tapak pabrik. Aksi warga yang mayoritas didominasi oleh kaum perempuan tersebut direspon dengan tindakan represif dan kekerasan oleh aparat TNI dan Kepolisian.
 
Aksi penolakan ibu-ibu Rembang terhadap pendirian pabrik semen bukanlah tanpa dasar, penambangan yang dilakukan oleh PT. Semen Indonesia tersebut berada di kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watu Putih yang merupakan kawasan lindung Geologi. Di kawasan tersebut ditemukan 49 goa yeng tersebar dan 4 diantaranya merupakan goa yang memiliki sungai bawah tanah aktif. Selain itu juga terdapat 109 mata air yang tersebar di wilayah CAT Watuputih sebagai mata air parenial yang mengalir di sepanjang musim kemarau dan penghujan. (Data:Hasil Penelitian Semarang Caver Association (SCA) dan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Rembang)
 
CAT Watu Putih memilki fungsi epikarst yang jika itu hilang maka akan mengakibatkan hilangnya fungsi resapan air, dimana mata air yang ada di sekitar kawasan karst CAT Watuputih mampu memenuhi kebutuhan 607.198 jiwa di 14 kecamatan, Kabupaten Rembang. Sementara itu, dalam konteks bencana, hilangnya fungsi resapan menyebabkan hilangnya jeda waktu air tersimpan sehingga pada saat musim hujan, air yang seharusnya terserap ke dalam tanah akan berubah menjadi air permukaan/run off. Pada saat melebihi debit puncak air hujan yang datang akan cepat hilang sebagai aliran air permukaan dan hal ini dapat mengakibatkan banjir di wilayah-wilayah dataran yang berhubungan langsung dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang bermuara pada CAT Watuputih.
 
Atas potensi kerugian dan bencana yang ditimbulkan, berkali-kali warga telah melakukan aksi penolakan serta menyampaikan keberatan atas keberadaan pertambangan sampai pada pendirian tenda didepan tapak pabrik sebagai bentuk protes. Aksi inipun akhirnya memaksa Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jateng untuk turun ke tenda mendatangi ibu-ibu yang masih bertahan disana. Alih-alih mendapatkan dukungan dan perlindungan, Ganjar menganggap penolakan warga tidak berdasar dengan melontarkan pertanyaan “Sampun Maos AMDAL?”.
 
Pada 1 September 2014 yang lalu warga telah mengajukan gugatan pembatalan Izin Lingkungan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang. Pada sidang terakhir (30/10/2014) Majelis hakim menyatakan berkas gugatan telah lengkap dan sidang akan dilanjutkan pada 6 Nopember 2014 dengan agenda Pembacaan Gugatan.
 
Sementara itu sebagai bentuk solidaritas dan dukungan terhadap perjuangan warga dalam menolak pertambangan dikawasan karst, Koalisi Anak semarang (KAS) berencana akan mengadakan kegiatan pada Jum’at, 31 Oktober 2014 dengan rangkaian Pameran, akustik Jamming, Performance Art, Diskusi, dan lapak sablon. Bertempat di Panorama  Café (Simongan, No 34) Acara akan dimulai pukul 15.00 sampi selesai.
 
CP: Ari Kuncung (08562680099)

 



Leave a Comment

© Copyright 2017 by Yayasan LBH Indonesia - Lembaga Bantuan Hukum Semarang
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: yunianto2008@gmail.com

Alamat:
Jl. Jomblangsari IV No. 17 Jomblang
Candisari, Semarang
Telp. (024)86453054, 86453050 Fax. (024)86453054