SEMARANG, KOMPASWarga di sekitar kawasan Pegunungan Kendeng Utara, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, terus berjuang menolak pendirian pabrik semen di kawasan tersebut. Senin (1/9), perwakilan warga bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara atas surat keputusan Gubernur Jateng Nomor 668.1/17 tahun 2012 tertanggal 7 Juni 2012 tentang Izin Lingkungan Pendirian Pabrik Semen.

Gugatan tersebut didaftarkan di PTUN Semarang oleh para pengacara yang tergabung dalam tim advokasi peduli lingkungan. Salah satu pengacara, Siti Rakhma Mary Herwati, mengatakan, SK Gubernur tersebut melanggar peraturan.

Peraturan yang dilanggar antara lain Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, UU No 26/2007 tentang Penataan Ruang, UU No 32/2009 tentang Lingkungan Hidup, Keputusan Presiden No 26/2001 tentang Penetapan Kawasan Cekungan Air Tanah, Peraturan Daerah Provinsi Jateng No 6/2010 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW), juga Perda Kabupaten Rembang No 14/2011 tentang RTRW.

Rakhma mengatakan, penerbitan SK Gubernur tersebut mengabaikan akses informasi kepada masyarakat. Banyak informasi tidak benar dalam proses penerbitan SK tersebut, termasuk kebohongan akan tidak adanya sumber mata air dalam kawasan karst itu, padahal setelah dicek terdapat banyak sekali sumber mata air.

Rencana penambangan PT Semen Indonesia, berdasarkan peta izin usaha pertambangan tahun 2012, masuk dalam wilayah cekungan air tanah Watuputih di Gunung Watuputih. Adapun hasil penelitian air bawah tanah di Gunung Watuputih oleh Dinas Pertambangan Provinsi Jateng pada Maret 1998 menjelaskan, kawasan itu tergolong dalam tipe bentang alam karst. Terdapat fenomena alam unik dengan adanya goa-goa alam dan sungai bawah tanah. Kawasan karst berdasarkan berbagai aturan tersebut tidak boleh ditambang.

”Kami minta SK tentang izin lingkungan itu dinyatakan batal dan tidak sah. Kami minta SK itu dicabut dan sementara proses hukum ini berjalan, kami minta segala kegiatan penambangan harus dihentikan atau ditangguhkan pelaksanaannya,” ujarnya.

Beberapa warga yang turut serta ke PTUN menggelar aksi teatrikal yang menggambarkan bagaimana kawasan karst yang seharusnya dilindungi malah diekspoitasi. Salah seorang warga Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang, Sukinah (38), mengatakan, para ibu masih bertahan tinggal di lokasi penambangan. Senin adalah hari ke-78 mereka melakukan aksi tersebut dan berharap keluh kesah mereka didengar pemerintah.

Di Pati, seniman muda yang tergabung dalam Jaringan Kesenian Anti Rayap menolak pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Utara. Mereka mendatangi kantor DPRD Kabupaten Pati dan Bupati Pati, Senin, sembari menggelar aksi teatrikal seni barongan.

Kedatangan mereka untuk memberikan dukungan kepada masyarakat penolak pembangunan pabrik semen PT Sahabat Mulia Sakti, anak perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (uti/hen)

Link media –> Download